Maulid Ad-Diba’i dan Keberkahan Rabiul Awwal: Sejarah, Landasan Istinbath, Keutamaan, dan Amaliyah 12 Hari

hudallah
26 Min Read
Bait awal dari Kitab Maulid Diba'

“Katakanlah (Muhammad), ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira.’”
QS. Yunus: 58

Hudallah.id –

Contents
1. Maulid: Mengenang Nikmat Terbesar dalam Sejarah Kemanusiaan2. Rasulullah ﷺ Sendiri Mengingat Hari Kelahirannya3. Apakah Maulid Ada pada Masa Sahabat?4. Pendapat Imam Ibnu Hajar al-Asqalani5. Imam as-Suyuthi dan Konsep Maulid sebagai Syukur6. Istinbath Maulid: Bukan Menciptakan Ibadah Baru, tetapi Mengumpulkan Amal SalehMembaca Al-Qur’anMembaca ShalawatMembaca Sirah NabiMengingat Akhlak Rasulullah ﷺBersedekahBerkumpul dalam Majelis Ilmu dan DzikirMengungkapkan Mahabbah kepada Rasulullah ﷺ7. Mengapa Membaca Maulid Ad-Diba’i?8. Maulid Ad-Diba’i Sesungguhnya Adalah Pelajaran Sirah9. Keutamaan Memperbanyak Shalawat10. Keberkahan Majelis Maulid11. Mengapa Sebagian Masyarakat Membaca Maulid Selama 12 Hari?12. Dua Belas Hari sebagai “Madrasah Mahabbah”Hari Pertama — Mengenal Rasulullah ﷺHari Kedua — Masa Kecil Rasulullah ﷺHari Ketiga — Al-AminHari Keempat — Turunnya WahyuHari Kelima — Dakwah di MakkahHari Keenam — HijrahHari Ketujuh — Rasulullah sebagai PemimpinHari Kedelapan — Akhlak Rasulullah ﷺHari Kesembilan — Rasulullah dan KeluargaHari Kesepuluh — Rasulullah dan Anak-anakHari Kesebelas — Rasulullah dan UmatnyaHari Kedua Belas — Syukur dan Mahabbah13. Mahallul Qiyam dan Rasa Hormat kepada Rasulullah ﷺ14. Maulid Bukan Pengganti Sunnah15. Sedekah dan Memberi Makan sebagai Bagian Penting Maulid16. Maulid yang Baik Tidak Harus Mewah17. Jangan Menjadikan Maulid sebagai Ajang Perdebatan18. Istinbath yang Lebih Utuh: Maulid sebagai Syukur atas Rahmat AllahPertama: Rasulullah ﷺ adalah rahmat bagi alamKedua: Allah memerintahkan manusia bergembira atas karunia dan rahmat-NyaKetiga: Rasulullah ﷺ mengaitkan puasa Senin dengan kelahirannyaKeempat: Shalawat memiliki keutamaan yang jelasKelima: Membaca sirah adalah sarana mengenal Rasulullah ﷺKeenam: Sedekah dan memberi makan adalah amal saleh19. Keberkahan Rabiul Awwal: Dari Tradisi Menjadi Transformasi20. Dua Belas Hari yang Menghidupkan Hati21. Penutup: Maulid dan Jalan Pulang kepada Akhlak Nabi

Bulan Rabiul Awwal memiliki tempat yang istimewa dalam ingatan umat Islam. Pada bulan inilah umat Islam mengenang kelahiran manusia agung yang membawa risalah Islam, Nabi Muhammad ﷺ.

Di berbagai penjuru dunia Islam, khususnya di Indonesia, bulan Rabiul Awwal tidak hanya diisi dengan ceramah tentang sejarah Nabi. Masyarakat juga menghidupkannya dengan membaca shalawat, mempelajari sirah, bersedekah, memberi makan, berkumpul dalam majelis ilmu, dan membaca kitab-kitab Maulid.

Salah satu kitab yang sangat populer di Nusantara adalah Maulid ad-Diba’i, karya al-Imam Wajihuddin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad ad-Diba’i asy-Syaibani az-Zabidi asy-Syafi’i.

Pembacaan Maulid ad-Diba’i kemudian berkembang menjadi tradisi keagamaan di pesantren, masjid, mushala, majelis taklim, dan keluarga Muslim. Di sebagian masyarakat, pembacaannya dilakukan secara khusus selama bulan Rabiul Awwal, bahkan ada yang menghidupkan majelis Maulid selama dua belas hari sejak awal bulan hingga tanggal 12 Rabiul Awwal.

Lalu, bagaimana sebenarnya sejarahnya?

Apa landasan keagamaannya?

Apakah perayaan Maulid memiliki dasar dalam syariat?

Dan bagaimana kita memahami keberkahan membaca Maulid ad-Diba’i selama bulan Rabiul Awwal?

Artikel ini mencoba menjawabnya dengan pendekatan sejarah, hadis, Al-Qur’an, dan kaidah istinbath yang digunakan para ulama.


1. Maulid: Mengenang Nikmat Terbesar dalam Sejarah Kemanusiaan

Sebelum membicarakan hukum perayaannya, kita perlu memahami terlebih dahulu apa yang sebenarnya dirayakan.

Maulid berarti kelahiran.

Dalam konteks umat Islam, Maulid Nabi adalah momentum untuk mengingat kelahiran Nabi Muhammad ﷺ, sekaligus mengingat risalah, perjuangan, akhlak, dan rahmat yang dibawa beliau.

Allah SWT berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.”

QS. Al-Anbiya’: 107

Karena itu, kegembiraan terhadap hadirnya Rasulullah ﷺ bukan semata-mata kegembiraan terhadap kelahiran seorang manusia biasa.

Beliau adalah Rasul yang membawa manusia dari kegelapan menuju petunjuk, dari kesyirikan menuju tauhid, dari kebodohan menuju ilmu, dan dari kehidupan yang kehilangan arah menuju penghambaan kepada Allah.

Dalam perspektif ini, mengingat kelahiran Rasulullah ﷺ dapat menjadi pintu untuk mengingat kembali nikmat Allah berupa risalah Islam.

Allah berfirman:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا

“Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira.”

QS. Yunus: 58.

Para mufasir memberikan penjelasan mengenai fadhlillah dan rahmatillah dalam ayat tersebut. Di antara tafsir yang dikemukakan adalah Islam, Al-Qur’an, iman, dan petunjuk Allah. Dengan demikian, ayat ini memberikan prinsip umum bahwa seorang Muslim boleh bergembira atas karunia dan rahmat Allah.

Bagi umat Islam, Rasulullah ﷺ adalah pembawa risalah yang menjadi sebab manusia mengenal Al-Qur’an dan Islam.


2. Rasulullah ﷺ Sendiri Mengingat Hari Kelahirannya

Salah satu hadis penting dalam pembahasan Maulid terdapat dalam Shahih Muslim.

Ketika Rasulullah ﷺ ditanya mengenai puasa hari Senin, beliau menjawab:

فِيهِ وُلِدْتُ وَفِيهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ

“Pada hari itu aku dilahirkan dan pada hari itu pula wahyu diturunkan kepadaku.”

HR. Muslim.

Hadis ini sangat menarik.

Rasulullah ﷺ tidak mengabaikan fakta bahwa hari Senin adalah hari kelahirannya. Bahkan ketika menjelaskan keutamaan puasa Senin, beliau mengaitkannya dengan dua peristiwa besar:

  1. kelahiran beliau; dan
  2. turunnya wahyu.

Hadis tersebut tentu tidak serta-merta menjadi dalil bahwa Rasulullah ﷺ mengadakan pesta ulang tahun atau perayaan Maulid sebagaimana bentuk yang dikenal masyarakat sekarang.

Namun hadis tersebut menunjukkan satu prinsip penting:

kelahiran Rasulullah ﷺ adalah nikmat yang layak diingat dengan ibadah dan syukur.

Dalam hadis tersebut, bentuk syukurnya adalah puasa.

Para ulama yang membolehkan Maulid kemudian melihat bahwa bentuk syukur tidak harus terbatas pada satu bentuk ibadah saja selama bentuk tersebut sendiri dibenarkan syariat.

Karena itu, syukur dapat diwujudkan melalui membaca Al-Qur’an, bershalawat, bersedekah, memberi makan, mempelajari sirah Nabi, dan berbagai amal saleh lainnya.


3. Apakah Maulid Ada pada Masa Sahabat?

Di sinilah pembahasan Maulid perlu dilakukan secara jujur.

Tidak terdapat riwayat yang menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ mengadakan acara Maulid sebagaimana tradisi yang dikenal umat Islam sekarang.

Demikian pula, para sahabat tidak dikenal menyelenggarakan acara Maulid dalam bentuk majelis khusus pada tanggal tertentu.

Karena itu, ulama yang membahas Maulid tidak biasanya mengatakan bahwa bentuk acara Maulid sekarang adalah ibadah mahdhah yang secara langsung diperintahkan oleh Rasulullah ﷺ.

Persoalannya justru berada pada wilayah ijtihad terhadap bentuk pengumpulan berbagai amal yang pada dasarnya sudah memiliki landasan syariat.

Di sinilah konsep bid’ah dan bid’ah hasanah menjadi bagian penting dari diskusi para fuqaha.

Sebagian ulama menolak Maulid karena tidak dilakukan oleh generasi awal Islam.

Sementara sebagian ulama lain membolehkannya dengan melihat substansi amal yang dilakukan di dalamnya.

Dengan kata lain, perdebatan bukan sekadar:

“Apakah Nabi pernah melakukan Maulid?”

Tetapi juga:

“Apa saja yang dilakukan dalam majelis Maulid, dan apakah masing-masing amal tersebut memiliki dasar dalam syariat?”

Pertanyaan kedua inilah yang menjadi wilayah istinbath para ulama yang membolehkan Maulid.


4. Pendapat Imam Ibnu Hajar al-Asqalani

Di antara ulama besar yang sering disebut dalam pembahasan ini adalah al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani.

Pendapat beliau dinukil oleh Imam Jalaluddin as-Suyuthi dalam al-Hawi lil Fatawi.

Secara ringkas, Ibnu Hajar menjelaskan bahwa asal bentuk peringatan Maulid memang merupakan sesuatu yang tidak dilakukan oleh generasi salaf. Akan tetapi, di dalam pelaksanaannya terdapat unsur-unsur kebaikan dan unsur-unsur yang sebaliknya.

Jika yang diambil adalah unsur-unsur kebaikan dan dijauhi unsur-unsur yang bertentangan dengan syariat, maka ia dapat dipandang sebagai bid’ah hasanah.

Pendapat ini menunjukkan metode penting:

hukum tidak hanya dilihat dari nama acaranya, tetapi dari hakikat dan isi amal yang dilakukan di dalamnya.

Jika sebuah majelis Maulid diisi dengan:

  • membaca Al-Qur’an,
  • membaca sirah Nabi,
  • membaca shalawat,
  • berdzikir,
  • berdoa,
  • bersedekah,
  • memberi makan,
  • menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ,

maka seluruh unsur tersebut memiliki dasar dalam ajaran Islam.

Sebaliknya, jika sebuah acara Maulid disertai kemaksiatan, pemborosan, kesombongan, atau aktivitas yang jelas bertentangan dengan syariat, maka kemaksiatan tersebut tidak berubah menjadi halal hanya karena dilakukan dengan label Maulid.

Ini adalah prinsip yang sangat penting.

Kemuliaan Maulid harus tercermin dari kemuliaan amal di dalamnya.


5. Imam as-Suyuthi dan Konsep Maulid sebagai Syukur

Imam Jalaluddin as-Suyuthi memberikan penjelasan yang lebih sistematis.

Beliau menggambarkan Maulid sebagai berkumpulnya masyarakat, membaca Al-Qur’an, membaca berita mengenai kehidupan dan kelahiran Nabi Muhammad ﷺ, kemudian menyediakan makanan dan selesai tanpa melakukan perkara yang bertentangan dengan syariat.

Beliau menilai bentuk demikian sebagai bid’ah hasanah karena mengandung unsur pengagungan kepada Nabi dan kegembiraan atas kelahiran beliau.

Argumentasi yang digunakan tidak berarti bahwa tanggal kelahiran Nabi kemudian menjadi hari raya keempat dalam Islam.

Bukan itu maksudnya.

Idul Fitri dan Idul Adha mempunyai kedudukan khusus yang ditetapkan syariat.

Maulid berada dalam wilayah yang berbeda: sebuah majelis yang mengumpulkan sejumlah amal saleh untuk mengenang Rasulullah ﷺ dan mensyukuri nikmat Allah.

Karena itu, seseorang tidak boleh meyakini bahwa orang yang tidak menghadiri Maulid berarti berdosa karena meninggalkan sebuah kewajiban agama.


6. Istinbath Maulid: Bukan Menciptakan Ibadah Baru, tetapi Mengumpulkan Amal Saleh

Ini barangkali merupakan cara paling sederhana untuk memahami argumentasi ulama yang membolehkan Maulid.

Mari kita uraikan isi majelis Maulid.

Membaca Al-Qur’an

Membaca Al-Qur’an adalah ibadah.

Membaca Shalawat

Allah sendiri memerintahkan orang-orang beriman untuk bershalawat kepada Nabi:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi.”

Membaca Sirah Nabi

Mempelajari kehidupan Rasulullah ﷺ berarti mempelajari teladan manusia terbaik.

Mengingat Akhlak Rasulullah ﷺ

Allah menyebut Rasulullah ﷺ sebagai manusia yang memiliki akhlak agung.

Bersedekah

Memberikan makanan kepada jamaah, fakir miskin, tetangga, dan masyarakat adalah amal kebajikan.

Berkumpul dalam Majelis Ilmu dan Dzikir

Majelis ilmu dan dzikir juga mempunyai kedudukan yang sangat tinggi dalam tradisi Islam.

Mengungkapkan Mahabbah kepada Rasulullah ﷺ

Kecintaan kepada Rasulullah ﷺ merupakan bagian penting dari iman.

Dengan demikian, Maulid dapat dipahami sebagai wadah yang mengumpulkan berbagai amal saleh tersebut dalam satu momentum.

Inilah salah satu konstruksi istinbath yang digunakan ulama yang membolehkannya.


7. Mengapa Membaca Maulid Ad-Diba’i?

Maulid tidak harus menggunakan kitab tertentu.

Umat Islam dapat membaca berbagai kitab Maulid seperti al-Barzanji, ad-Diba’i, Simthud Durar, atau karya-karya lainnya.

Namun Maulid ad-Diba’i memiliki tempat khusus dalam tradisi masyarakat Muslim Indonesia.

Pengarangnya adalah al-Imam Wajihuddin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad asy-Syaibani az-Zabidi asy-Syafi’i, yang lebih dikenal sebagai Ibn ad-Diba’i.

Ia lahir di Zabid, Yaman, pada 4 Muharram 866 H dan wafat pada 12 Rajab 944 H. Ia dikenal sebagai ahli hadis, sejarawan, ahli fikih, dan penyair.

Karya Maulid ad-Diba’i berisi kisah dan pujian terhadap Rasulullah ﷺ yang disusun dengan bahasa sastra Arab.

Keindahan susunan syairnya membuat pembacaan Maulid tidak hanya menjadi kegiatan membaca teks, tetapi juga sarana untuk menghadirkan suasana kecintaan kepada Rasulullah ﷺ.

NU Online juga menjelaskan bahwa keindahan syair dalam Maulid ad-Diba’i dapat menjadi media untuk menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah ﷺ sekaligus mempelajari sifat dan karakter beliau.


8. Maulid Ad-Diba’i Sesungguhnya Adalah Pelajaran Sirah

Ada satu hal yang sering terlupakan.

Ketika seseorang membaca:

Ya Rabbi shalli ‘ala Muhammad…

kemudian membaca kisah kelahiran Nabi, masa kecilnya, perjalanan hidupnya, sifat-sifatnya, perjuangannya, dan berbagai peristiwa yang berkaitan dengan Rasulullah ﷺ, sesungguhnya ia sedang melakukan satu bentuk pembelajaran sirah nabawiyah.

Karena itu, pembacaan Maulid sebaiknya tidak berhenti pada suara dan irama.

Jangan sampai seseorang mampu menghafal bait-bait Maulid tetapi tidak mengenal akhlak Nabi.

Jangan sampai suara shalawat terdengar indah, tetapi perilaku sehari-hari jauh dari sunnah Rasulullah ﷺ.

Tujuan akhirnya harus lebih tinggi:

Maulid → mengenal Nabi → mencintai Nabi → meneladani Nabi.

Itulah transformasi yang seharusnya terjadi.


9. Keutamaan Memperbanyak Shalawat

Salah satu amalan utama dalam pembacaan Maulid adalah shalawat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا

“Barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, Allah akan memberikan rahmat kepadanya sepuluh kali.”

HR. Muslim 408.

Hadis ini memberikan motivasi yang sangat besar.

Maka ketika masyarakat berkumpul dan membaca shalawat berkali-kali dalam sebuah majelis Maulid, mereka sesungguhnya sedang memperbanyak salah satu amal yang memiliki keutamaan langsung berdasarkan hadis.

Bahkan jika seseorang belum mampu memahami seluruh teks Maulid berbahasa Arab, ia tetap dapat mengambil bagian dari majelis tersebut melalui shalawat, doa, dzikir, dan mendengarkan kisah Rasulullah ﷺ.


10. Keberkahan Majelis Maulid

Kata “berkah” perlu dipahami dengan benar.

Keberkahan bukan berarti setiap orang yang datang ke Maulid pasti memperoleh kekayaan, kesembuhan, atau terkabulnya seluruh keinginannya.

Keberkahan adalah kebaikan yang Allah letakkan pada sesuatu.

Majelis Maulid dapat menjadi sebab datangnya keberkahan karena di dalamnya terdapat berbagai amal saleh:

Al-Qur’an + shalawat + dzikir + ilmu + sirah + doa + sedekah + silaturahmi.

Jika semua itu dilakukan dengan ikhlas, maka majelis tersebut menjadi ruang yang sangat baik untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Keberkahannya bahkan dapat melampaui waktu pelaksanaan majelis.

Seorang anak yang mendengar kisah Rasulullah ﷺ mungkin kemudian mencintai Nabi.

Seorang pemuda yang mendengar akhlak Rasulullah ﷺ mungkin kemudian memperbaiki perilakunya.

Seseorang yang selama ini jarang bershalawat mungkin menjadi terbiasa bershalawat.

Orang yang jauh dari masjid mungkin kembali menghadiri majelis ilmu.

Inilah keberkahan yang lebih hakiki.


11. Mengapa Sebagian Masyarakat Membaca Maulid Selama 12 Hari?

Dalam tradisi masyarakat Muslim Nusantara, terdapat berbagai bentuk amaliyah Rabiul Awwal.

Ada yang membaca Maulid sekali.

Ada yang setiap malam.

Ada yang bergilir dari rumah ke rumah.

Ada pula yang mengadakan majelis Maulid selama beberapa hari berturut-turut sampai tanggal 12 Rabiul Awwal.

Tradisi membaca Maulid selama 12 hari dapat dipahami sebagai sebuah bentuk riyadhah atau pembiasaan memperbanyak amal saleh sepanjang awal bulan Rabiul Awwal.

Namun perlu ditegaskan:

Tidak terdapat dalil yang menetapkan bahwa umat Islam wajib membaca Maulid ad-Diba’i tepat selama 12 hari.

Angka 12 tersebut berkaitan dengan tradisi masyarakat dan momentum yang secara populer dikaitkan dengan tanggal kelahiran Nabi Muhammad ﷺ.

Tanggal kelahiran Rasulullah ﷺ sendiri memang memiliki beberapa pendapat dalam literatur sejarah. Karena itu, tidak tepat menjadikan tanggal 12 Rabiul Awwal sebagai perkara akidah atau kewajiban syariat.

Akan tetapi, menjadikan dua belas hari pertama Rabiul Awwal sebagai kesempatan memperbanyak shalawat, membaca sirah, bersedekah, dan melakukan amal saleh adalah sebuah tradisi yang dapat dilakukan selama tidak diyakini sebagai kewajiban agama yang ditetapkan secara khusus.


12. Dua Belas Hari sebagai “Madrasah Mahabbah”

Jika dilakukan dengan benar, dua belas hari tersebut justru dapat dijadikan semacam Madrasah Mahabbah Rasulullah ﷺ.

Bukan sekadar membaca Maulid setiap malam.

Setiap hari dapat memiliki tema.

Hari Pertama — Mengenal Rasulullah ﷺ

Membaca tentang nasab dan kelahiran Rasulullah ﷺ.

Hari Kedua — Masa Kecil Rasulullah ﷺ

Mempelajari kehidupan beliau sebelum kenabian.

Hari Ketiga — Al-Amin

Mempelajari kejujuran dan amanah Rasulullah ﷺ.

Hari Keempat — Turunnya Wahyu

Mengenang awal kenabian dan turunnya Al-Qur’an.

Hari Kelima — Dakwah di Makkah

Mempelajari kesabaran Rasulullah ﷺ menghadapi penolakan.

Hari Keenam — Hijrah

Merenungkan pengorbanan dan strategi Rasulullah ﷺ.

Hari Ketujuh — Rasulullah sebagai Pemimpin

Mempelajari bagaimana beliau memimpin masyarakat Madinah.

Hari Kedelapan — Akhlak Rasulullah ﷺ

Mempelajari kelembutan, kasih sayang, kejujuran, dan keadilan beliau.

Hari Kesembilan — Rasulullah dan Keluarga

Mempelajari kehidupan rumah tangga dan kasih sayang beliau kepada keluarga.

Hari Kesepuluh — Rasulullah dan Anak-anak

Mempelajari kasih sayang beliau terhadap generasi muda.

Hari Kesebelas — Rasulullah dan Umatnya

Merenungkan kecintaan Rasulullah ﷺ kepada umatnya.

Hari Kedua Belas — Syukur dan Mahabbah

Menutup rangkaian dengan shalawat, doa, sedekah, dan tekad untuk mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ.

Dengan model seperti ini, Maulid tidak berhenti sebagai tradisi tahunan.

Ia menjadi pendidikan karakter selama dua belas hari.


13. Mahallul Qiyam dan Rasa Hormat kepada Rasulullah ﷺ

Salah satu bagian yang dikenal dalam pembacaan Maulid adalah Mahallul Qiyam, yaitu berdiri pada bagian tertentu dari pembacaan Maulid.

Dalam tradisi masyarakat Muslim, berdiri tersebut dipahami sebagai bentuk penghormatan dan pengagungan terhadap Rasulullah ﷺ.

Namun sekali lagi, ia bukan kewajiban.

Orang yang duduk tidak berarti kurang iman.

Orang yang berdiri juga tidak boleh merasa lebih tinggi daripada orang yang duduk.

Perbedaan dalam perkara seperti ini hendaknya tidak menjadi alasan untuk saling mencela.

Esensi yang lebih penting adalah menghadirkan ta’zhim dan mahabbah kepada Rasulullah ﷺ.


14. Maulid Bukan Pengganti Sunnah

Ini juga harus menjadi prinsip.

Tidak cukup mencintai Rasulullah ﷺ dengan membaca pujian kepada beliau.

Cinta kepada Rasulullah ﷺ harus dibuktikan dengan mengikuti beliau.

Allah SWT berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ

“Katakanlah: Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu.”

QS. Ali Imran: 31

Karena itu, ukuran keberhasilan Maulid bukan hanya:

“Berapa kali kita membaca Diba’?”

tetapi:

“Apa yang berubah dalam diri kita setelah membaca Diba’?”

Jika setelah Maulid seseorang menjadi lebih jujur, lebih lembut, lebih rajin bershalawat, lebih mencintai ilmu, lebih menghormati orang tua, lebih peduli kepada fakir miskin, dan lebih menjaga sunnah Rasulullah ﷺ, maka Maulid telah menghasilkan buah yang nyata.


15. Sedekah dan Memberi Makan sebagai Bagian Penting Maulid

Tradisi menyediakan makanan dalam acara Maulid bukan sekadar persoalan konsumsi.

Ia dapat menjadi bagian dari sedekah dan bentuk kegembiraan sosial.

Imam as-Suyuthi ketika membahas Maulid juga memasukkan pemberian makanan sebagai salah satu bentuk kebaikan yang dapat dilakukan dalam momentum tersebut.

Karena itu, apabila sebuah keluarga hendak mengadakan Maulid, tidak perlu merasa harus membuat acara yang mahal.

Sebungkus nasi yang diberikan kepada tetangga dapat bernilai lebih besar daripada pesta besar yang dipenuhi pemborosan.

Semangkuk makanan untuk orang yang membutuhkan dapat menjadi bagian dari mahabbah kepada Rasulullah ﷺ.

Memberi makan anak yatim.

Membantu fakir miskin.

Membayar kebutuhan mushala.

Menyantuni guru.

Membantu tetangga.

Semua itu dapat menjadi bagian dari semangat Maulid.


16. Maulid yang Baik Tidak Harus Mewah

Salah satu penyakit dalam tradisi keagamaan adalah ketika simbol menjadi lebih penting daripada substansi.

Maulid tidak harus menggunakan panggung besar.

Tidak harus menggunakan sound system mahal.

Tidak harus menyediakan makanan berlebihan.

Tidak harus menghabiskan dana besar.

Sebuah keluarga yang duduk bersama di ruang tamu, membaca Maulid ad-Diba’i, bershalawat, membaca sirah Rasulullah ﷺ, kemudian makan bersama dengan sederhana, sudah memiliki sebuah majelis yang sangat bernilai jika dilakukan dengan ikhlas.

Begitu pula sebuah mushala kecil di kampung.

Sepuluh orang yang membaca shalawat dengan hati yang khusyuk tidak kalah nilainya dari ribuan orang yang berkumpul apabila hati mereka hanya mengejar kemeriahan.


17. Jangan Menjadikan Maulid sebagai Ajang Perdebatan

Perbedaan pendapat tentang Maulid sudah berlangsung dalam tradisi keilmuan Islam.

Ada ulama yang membolehkan dengan syarat-syarat tertentu.

Ada pula ulama yang tidak membolehkannya.

Karena itu, seorang Muslim sebaiknya memahami bahwa persoalan ini berada dalam wilayah khilafiyah yang membutuhkan keluasan ilmu dan adab.

Orang yang menghadiri Maulid jangan mudah menuduh orang yang tidak hadir sebagai pembenci Rasulullah ﷺ.

Sebaliknya, orang yang tidak mengikuti Maulid juga hendaknya tidak mudah menuduh semua orang yang membacanya sebagai ahli bid’ah yang sesat.

Perbedaan fiqh tidak boleh berubah menjadi permusuhan antarsesama Muslim.


18. Istinbath yang Lebih Utuh: Maulid sebagai Syukur atas Rahmat Allah

Jika seluruh argumentasi tersebut dirangkum, maka konstruksi istinbath Maulid dapat dipahami melalui beberapa lapisan.

Pertama: Rasulullah ﷺ adalah rahmat bagi alam

QS. Al-Anbiya’: 107 menunjukkan kedudukan Rasulullah ﷺ sebagai rahmatan lil-‘alamin.

Kedua: Allah memerintahkan manusia bergembira atas karunia dan rahmat-Nya

QS. Yunus: 58 memberikan prinsip kegembiraan terhadap karunia dan rahmat Allah.

Ketiga: Rasulullah ﷺ mengaitkan puasa Senin dengan kelahirannya

Hadis Shahih Muslim menunjukkan bahwa kelahiran beliau dapat menjadi bagian dari refleksi ibadah dan syukur.

Keempat: Shalawat memiliki keutamaan yang jelas

Satu shalawat kepada Rasulullah ﷺ dibalas Allah dengan sepuluh shalawat/rahmat.

Kelima: Membaca sirah adalah sarana mengenal Rasulullah ﷺ

Mengenal kehidupan Rasulullah ﷺ membantu seorang Muslim meneladani beliau.

Keenam: Sedekah dan memberi makan adalah amal saleh

Keduanya dapat menjadi bagian dari majelis Maulid.

Maka argumentasinya bukan:

“Nabi memerintahkan membaca Diba’.”

Melainkan:

“Diba’ adalah salah satu media untuk mengumpulkan sejumlah amal yang masing-masing memiliki dasar dalam syariat, dalam rangka mengenang dan mensyukuri nikmat Allah berupa diutusnya Rasulullah ﷺ.”

Inilah pembedaan yang penting.


19. Keberkahan Rabiul Awwal: Dari Tradisi Menjadi Transformasi

Rabiul Awwal seharusnya tidak berhenti sebagai bulan perayaan.

Ia harus menjadi bulan perubahan.

Jika sebelumnya kita jarang membaca shalawat, maka Rabiul Awwal menjadi momentum untuk membiasakannya.

Jika sebelumnya kita tidak mengenal sirah Nabi, maka bulan ini menjadi kesempatan mempelajarinya.

Jika sebelumnya hubungan dengan tetangga kurang baik, maka Maulid menjadi momentum memperbaikinya.

Jika sebelumnya kita jarang bersedekah, maka momentum Maulid menjadi jalan untuk belajar memberi.

Jika sebelumnya kita mudah marah, maka kisah kelembutan Rasulullah ﷺ menjadi pelajaran untuk memperbaiki akhlak.

Dengan demikian, keberkahan Maulid bukan hanya berada pada majlisnya, tetapi pada perubahan yang ditinggalkannya setelah majelis selesai.


20. Dua Belas Hari yang Menghidupkan Hati

Membaca Maulid ad-Diba’i selama dua belas hari pertama Rabiul Awwal dapat dijadikan tradisi yang sangat indah apabila diposisikan sebagai program memperbanyak amal saleh, bukan sebagai kewajiban baru.

Bayangkan jika selama dua belas hari sebuah keluarga atau jamaah melakukan hal sederhana:

Hari pertama: membaca Maulid dan bershalawat.

Hari kedua: membaca sirah Nabi.

Hari ketiga: bersedekah.

Hari keempat: memberi makan tetangga.

Hari kelima: memperbanyak shalawat.

Hari keenam: membaca Al-Qur’an.

Hari ketujuh: mempelajari akhlak Rasulullah ﷺ.

Hari kedelapan: memperbaiki hubungan dengan keluarga.

Hari kesembilan: membantu orang yang membutuhkan.

Hari kesepuluh: memperbanyak istighfar dan doa.

Hari kesebelas: membaca kisah perjuangan Rasulullah ﷺ.

Hari kedua belas: mengadakan majelis syukur dan doa.

Maka dua belas hari tersebut bukan sekadar rangkaian acara.

Ia menjadi perjalanan spiritual.

Dari mengingat Nabi, menuju mengenal Nabi.

Dari mengenal Nabi, menuju mencintai Nabi.

Dari mencintai Nabi, menuju meneladani Nabi.


21. Penutup: Maulid dan Jalan Pulang kepada Akhlak Nabi

Pada akhirnya, perdebatan mengenai Maulid seharusnya tidak membuat kita kehilangan tujuan yang lebih besar.

Rasulullah ﷺ datang membawa agama.

Beliau mengajarkan tauhid.

Beliau mengajarkan shalat.

Beliau mengajarkan kejujuran.

Beliau mengajarkan kasih sayang.

Beliau mengajarkan keadilan.

Beliau mengajarkan amanah.

Beliau mengajarkan persaudaraan.

Dan beliau menunjukkan semuanya melalui kehidupan nyata.

Maka membaca Maulid ad-Diba’i seharusnya menjadi pintu untuk kembali kepada kehidupan Rasulullah ﷺ.

Ketika lisan membaca:

اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد

hendaknya hati juga bertanya:

Sudahkah aku mengikuti akhlaknya?

Ketika kita berdiri dalam Mahallul Qiyam, hendaknya kita mengingat kemuliaan Rasulullah ﷺ.

Ketika kita bershalawat, hendaknya kita berharap agar Allah menumbuhkan kecintaan kepada beliau.

Ketika kita menikmati hidangan Maulid, hendaknya kita mengingat orang yang belum mampu makan.

Dan ketika Rabiul Awwal berakhir, hendaknya shalawat tidak ikut berakhir.

Sebab mencintai Rasulullah ﷺ tidak hanya berlaku pada bulan Rabiul Awwal.

Rabiul Awwal hanyalah momentum untuk menyalakan kembali cinta yang seharusnya hidup sepanjang tahun.

Karena itu, jika sebuah masyarakat hendak menghidupkan dua belas hari Rabiul Awwal dengan Maulid ad-Diba’i, shalawat, sirah, sedekah, dan majelis ilmu, hendaknya ia melakukannya dengan niat:

bersyukur kepada Allah atas nikmat diutusnya Rasulullah ﷺ, memperbanyak shalawat, mempelajari kehidupan beliau, mempererat silaturahmi, dan memperbaiki akhlak.

Bukan karena meyakini bahwa dua belas hari tersebut merupakan kewajiban yang ditetapkan secara khusus oleh syariat.

Dan bukan pula karena ingin memenangkan perdebatan tentang Maulid.

Melainkan karena ingin menjadikan Rabiul Awwal sebagai bulan untuk kembali mengenal manusia yang paling kita cintai: Muhammad Rasulullah ﷺ.

Semoga Allah memperbanyak shalawat di lisan kita, menumbuhkan mahabbah kepada Rasulullah ﷺ di dalam hati kita, dan menjadikan kecintaan tersebut sebagai jalan untuk mengikuti sunnah dan akhlak beliau.

اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallim.

آمين يا رب العالمين.

Share This Article
Tidak ada komentar